Follow Now......!

Senin, 17 September 2012

SENDIRI

Malam semakin larut.
Mungkin sebentar lagi pagi.
Aku sendiri masih terjaga.
Tak ada teman tak ada kekasih.

Pilu hatiku ,mengingat perjalanan hidupku.
Aku tahu ini taKdir.
Cobaan hidup harus kuterima.
Harus sabar Menjalaninya.

Kegagalan demi kegagalan kuraih.
Dan coba bangkit untuk berdiri.
Meneruskan perjalanan ini masih panjang.
Hidup harus tetap berjalan.

Kadang banyak hinaan dan pelecehan.
Tapi ku tetap bisa tersenyum walau harus di atas duka.
Harus tegar menghadapi kenyataan.
Di balik cobaan ada tersimpan rencana-NYa.
Akan indah pada waktunya.

HAMPA

Aku hanya angin
yang membuaimu tanpa tersentuh
Yang hanya bisa menatap
namun tak dapat ku raih

Tak bisa menghapus
saat pedih air matamu mengalir
Tak sanggup menjerit
saat kau tersenyum pada yang lain

Aku hanya rasa
yang tak bisa kau genggam dalam nyata
Menyiksa seluruh batin dan jiwa
Yang hanya mampu berharap
dalam diam dan untaian do'a

Tatapku hampa
Harapanku kosong dan tak bermakna
Aku benci saat rindu
Saat aku memanggilmu cinta

LEPASKANLAH

Buanglah selimut rinduku
Andai tak menghangatkanmu
Lepaskan selembar sutera kasihku
Bila tak mampu balut hatimu

Urai benang cintaku
Andai tak ikat lagi setiamu
Simpanlah rajutan sayangku
Bila tak kau renda cintamu

Biarkan merpati cintaku bebas
Melayang dan lepas
Biar kasihku keluar dari sangkar hatimu
Jangan kau siksa hatiku

Tak usah mencari alasan
Tarik ulur layang-layang kerinduan
Tak perlu khianati hati
Bila kau ingin aku pergi

Hasratmu tak teRpuaskan
Ku tak dapat paksakan
Bila hanya membuat kelukaan
Baiknya cintaku kau putuskan

BICARA CINTA

cinta itu penuh arti di DEPAN...
sebuah benih kehidupan,
sebuah seni nan spektakuler,
sebuah arsitek gedung nan megah.

cinta itu hadir di TENGAH...
keterpurukkan wiraswasta,
kesedihan kuli padi,
keputus asaan penjaja jalanan.

cinta itu kekuatan di AKHIR...
kebanggaan orang tua membesarkan anak,
kesuksesan guru mendidik murid,
keberhasilan pemimpin mengayomi bawahan.

cinta...
sebuah rasa yang Allah beri,
kepada insan bumi,
dimulai dengan syukur hanya kepada-Nya

MUHASABAH DIRI

Renungkanlah tentang identitas diri..

Diri kita bukanlah apa yg kita rasakan, bukan pula diri sbgmn yg kita sendiri bayangkan dan kita pikirkan..

Tetapi diri kita adalah diri sebagaimana yg ditatap, dirasakan dan dipersepsi oleh orang-orang di sekeliling kita

Orang lain dan lingkungan adalah kaca terbaik untuk bercermin, merekalah yg akan menceritakan dan menggambarkan tentang i
dentitas kita yg sebenarnya..

Bukankah seseorang tidak bisa mengaku jujur sampai orang-orang lain menyebut dan mengatakan bahwa si fulan adalah seseorang yang benar-benar jujur..

Begitulah, karena kebaikan & kejujuran, keberanian & kemuliaan tak pernah bersumber dari pengakuan diri tetapi ia adalah atribut yg disematkan orang dan lingkungan, tentang segala hal yg dirasakan mereka atas diri kita..

Maka, selama jantung masih bisa berdetak, selama kaki masih bisa melangkah - maka selama itu pula kita masih punya kesempatan untuk menjadi pribadi yang lebih baik..

Saya tak pernah percaya bahwa kepribadian tak bisa dirubah..

Dan karenanya saya optimis, bangsa ini pun tentu bisa berubah..

Maka mari kita beramal tuk merubah dunia..

Belahan Jiwa

Kehadiranmu tak terelakan
Ketulusanmu tak terbantahkan
Kini..
Dalam relung hati yang paling dalam
Aku terpesona
oleh setiap riak yang kau kibaskan
Aku Terpaku
Oleh setiap ruang yang kau tampakkan

Bahkan untuk setiap gerakan sehelai rambutmu
Aku seakan mengerti kegelisahanmu
Bahkan untuk setiap desahan nafasmu
Aku seakan mengerti hasrat dan gelora di hatimu
Bahkan untuk setiap kerlingan matamu
Aku seakan mengerti yang tak terungkap
Kasih
Ku ingin kau tahu
Aku sangat bersyukur
merasakan gelora, kehangatan, keanggunan
cinta yang kau pancarkan
dan aku sangat bersyukur
karena ruang dan waktu menolongmu
menemukan aku
dan aku sangat bahagia
bila matamu membuat setiap keinginanku seolah menjadi nyata

Kasih
sungguh kita tak terpisahkan

setiawan

setiawan:
'Pasrah, Sumarah lan Nrimo ing Pandum'' Dadiyo wongkang sabar, temen, tetep, madep, manteb marang kang moho kuwoso.
satu manusia satu cerita, aku yang bercerita tentang aku, tentang aku seutuhnya.
bisa halus, bisa kasar, bisa baik dan juga bisa jahat.

Jumat, 06 Januari 2012

malaikat surgaku

ia yang dulu berbagi nafas denganku..
sampai sekarang tetap begitu..
ia yang dulu berbagi raga denganku..
sampai sekarang kita menyatu..
ia yang dulu berbagi lelah denganku..
ketika ini ia tak mau..
ia yang dulu berbagi nyawa denganku..
ketika ini ia tak ragu..
tiada yang seteduh laku pandangmu..
membuatku tahu ada yang mereka sebut nirwana..
hingga aku tak takut melangkah di dunia..
ku dengar saatku tertidur..
namaku kau sebut berulang kali hingga jatuh air matamu..
ku yakin kau berbincang dengan penciptamu..
sekali lagi ku yakin itu doa..
doa tulusmu padaku..
maaf aku hanya diam membatu..
tak banyak membantu dalam hidupmu..
malah nyenyak menyenderkan bahu..
tanpa tahu bagaimana kau selalu bersenandung lagu tidur untukku..
karena ku terlelap terlalu cepat..
hingga tersenyum pun tak sempat..
kini..
aku bukan seseorang yang pantas merengek lagi..
tidak seperti dulu aku yang tak mau tahu..
kau..
kau menangis saat rengekan pertamaku di dunia kau dengar..
tangis bahagia..
entah rengekan ku beberapa hari lalu..
tak sampai hati jika kau kini sendu..
aku kesal padamu..
kau membuat sesuatumu kekal..
sedang aku hanya orang tak tahu malu..
malu akan sesuatu yang tulus..
oia..
mungkin selama ini..
aku diam..
karena memang tak ada kata yang sepadan untuk mu..
kau..
kau..
adalah superior!!!
karena perasaan mu merobek bahasa..
tak kenal usia..
di atas semuanya..
aku hanya ingin berucap..
“terima kasih”
untuk ibuku..
malaikat yang nyata bagiku..

AYAH

Kau tampak lusuh dan berdebu
Ruat-ruat garis hitam merona kelopak matamu
Ku tahu kau lelah ayah…..
Saat senja kau duduk termenung menatap jalanan
Yang selalu menghantarkan keping pemberi kehidupan
Ketika kantuk menyerang kau tetap tegar
Ku tahu kau lelah ayah
Malu aku menawarkan ranjang yang tersisa
Atau mengantar diri terlelap lebih awal
Tiap malam beserta doa kuberharap
“Tuhan murahkan rejeki ayahku
Jagakan sehatnya, jauhkan darinya mara bahaya
Dan jika nanti Kau meminangnya kembali
Tempatkanlah ia disisi-Mu”

BUATMU

Ku benci kamu
Sungguh sederhana tapi tak mampu terbahasakan
Pilu rasa saat bicara, membara, lalu dingin seketika
Hidup denganmu bak dineraka hanya itu kupunya tuk mewakili
Sungguh sederhana hingga saat bicara ku tak lagi rasa apa-apa
Karena kusadar kau hanya datang untuk sementara
Andai tak ada besok mungkin ku kan bahagia
Tak perlu mencumbumu, merayumu, mengingatmu
Meski kau mencibir,menghujat dan meragukanku
Kuingin ini berakhir tapi tak kulihat ujung
Kini kusadar bukan raga yang menolakmu
Tapi jiwa dan nafasku
Untuk itu mesti pilu ku kan slalu ada disampingmu

duniaku

entah apakah diriku
apakah bentukku
ingin aku terbebas
dari kesendirian
menemukan dunia baru
yang mengerti diriku
ingin ku buka mata ini
dan melihat kenyataan
dan tidak terbangun
dalam mimpi tentang dunia indahku
ingin ku jadikan mimpiku
sebuah kenyataan
jadi sekali lagi aku bertanya pada diriku
siapakah aku
dan dimana duniaku

Sabtu, 05 November 2011

Cita - cita mu apa..?

 Cita - cita mu apa..?
Malam hujan, gemericik air di luar, hembusan angin, nyanyian indah kesunyian, kureguk sempurna, aroma tanah basah, daun basah, ranting basah, alam basah. Hening malam, kulihat diriku di balik jendela kamar, basah, bermain bersama bulir – bulir air yang tampak menetes dari kejauhan malam. Kusibak tirai jendela, kuperhatikan, aku menari bersama hujan dalam kegelapan malam, kemana saja kau hujan selarut ini baru datang..? aku bisa saja mati kedinginan bermain hujan di tengah malam, atau kau sengaja datang larut untuk mengusir nyamuk – nyamuk nakal, dan memeluk dingin mimpi – mimpi peraduan, akh, apalah alasannya tak jadi soal, aku senang kau datang, sehingga aku tak perlu kipas angin untuk mendinginkan ruang kamar, dan mengoleskan autan.


Kulihat tubuhku kembali pada kenyataan, diam menatap layar putih, dengan kursor yang berkedip – kedip mencuri pandang, belum ada satu pun kata disana, KOSONG. Secangkir kopi menghangatkan malam, kureguk nikmatnya kopi buatan sendiri, mencoba menyenangkan hati, bolehlah sekali – kali, toh beberapa kawan sudah coba menguji dan mencicipi, dan hasilnya cukup teruji. Mungkin suatu hari, boleh juga punya warung kopi sendiri, tempat berkumpul kawan – kawan pecinta seni, atau siapa pun pecinta kopi. Aku tersenyum, geli sendiri, MIMPI..!!


Kembali pada kenyataan layar putih yang masih kosong, yang mungkin sedang menanti sedari tadi, untaian kata kutorehkan di halaman putihnya. Aneh, saat kebanyakan manusia berlomba – lomba memuluskan dan memutihkan kulitnya, layar ini malah menanti kucoret – coret sebanyak - banyaknya, atau bahkan kalau perlu kuberi warna. Akh, pikiran liar alam bawah sadar yang sembarangan, mungkin aku sudah edan, memikirkan hal – hal yang tidak masuk akal, khayal. Yah namanya juga berimajinasi, mimpi, bukannya ini jam nya bermimpi..? Bermimpilah sebelum mimpi itu dilarang, kenapa musti takut..? Wong ga bayar, jadi teringat pertanyaan yang sama dari seorang kawan.


‘Cita – cita mu, ingin jadi apa..?’ aku terdiam, berfikir cukup lama untuk menjawab pertanyaannya, dan tawanya terburai melihat wajahku yang semakin bingung melihat tawanya yang terbahak - bahak, ‘wong cuma tinggal jawab aja koq bingung, Cuma disuruh mimpi aja koq ga brani, wong ga disuruh bayar..GRATIIISS..!!’, katanya. Dan tawanya kembali membahana, tawa yang lebih mirip ekspresi keprihatinan terhadap mental manusia bangsa ini, yang mungkin sudah tak banyak lagi, yang berani punya mimpi.


Bagaimana dengan kamu, cita – citamu apa..? :)

Minggu, 21 Agustus 2011

Optimisme Hidup Demi Kemuliaan

Semua orang sepakat jika hidup di dunia ini memang hanya sementara. Tapi ini bukan berarti kita harus pasrah untuk menyerahkan hidup kita dalam lingkungan penderitaan. Kita pasti bukan orang yang pesimis yang hanya yakin jika penderitaan bukanlah apa-apa setelah kematian menjemput.
Kita diberikan kemuliaan oleh tuhan untuk berpikir dan berusaha menjadi yang terbaik. Kesejahteraan dan kemuliaan hidup bukanlah mustahil bagi orang yang optimis.
Hidup akan lebih berarti dan akan terasa lebih panjang jika kita bersedia untuk memuliakan sesama, berbagi kebahagiaan dan mensejahterakan diri kita. Disitulah letak kemuliaan manusia dibandingkan mahluk tuhan lainnya.
Rela menanggung derita  karena tidak ada pilihan lain bukanlah pilihan bijak. Penderitaan dan kesengsaraan akan memuliakan kita dengan sendirinya.

Ketika tanpamu

Di sekelip cemasku yang
mendalam
Terselip kerinduan yang
mendalam
Pada gelisahku yang kian
gusar
Cemburu di hatiku mulai
terbakar
Cemas dengan
ketiadaanmu
Rindu akan kehadiranmu
Gelisah menanti
kedatanganmu
Cemburu tak menentu
Duhai kau insan
tersayang
Jauh pergimu ke tanah
seberang
Menyisakan bayangmu
dalam bingkai kenang
Akankah engkau segera
pulang ??
Cemasku membias curiga
Cemburuku kian
membara
Sedang rinduku
mengharap
Semua itu hanya
prasangka
Wahai insan tercinta
Bilakah kau rasa apa
yang kini ku rasa
Ketika tanpamu waktuku
berlalu hampa
Adakah kan datang suatu
masa untuk kita kembali
bersua

Do'aku

Aku meminta kepada Tuhan untuk
menyingkirkan penderitaanku.
Tuhan menjawab, Tidak.
tu bukan untuk Kusingkirkan, tetapi
agar kau mengalahkannya.
Aku meminta kepada Tuhan untuk
menyempurnakan kecacatanku.
Tuhan menjawab, Tidak.
Jiwa adalah sempurna, badan
hanyalah sementara.
Aku meminta kepada Tuhan untuk
menghadiahkanku kesabaran.
Tuhan menjawab, Tidak.
Kesabaran adalah hasil dari kesulitan;
itu tidak dihadiahkan, itu
dipelajari.
Aku meminta kepada Tuhan untuk
memberiku kebahagiaan.
Tuhan menjawab, Tidak.
Aku memberimu berkat.
Kebahagiaan adalah tergantung
padamu.
Aku meminta kepada Tuhan untuk
menjauhkan penderitaan.
Tuhan menjawab, Tidak.
Penderitaan menjauhkanmu dari
perhatian duniawi dan
membawamu
mendekat padaKu.
Aku meminta kepada Tuhan untuk
menumbuhkan rohku.
Tuhan menjawab, Tidak.
Kau harus menumbuhkannya
sendiri, tetapi Aku akan memangkas
untuk
membuatmu berbuah.
Aku meminta kepada Tuhan segala
hal sehingga aku dapat menikmati
hidup. Tuhan menjawab, Tidak.
Aku akan memberimu hidup,
sehingga kau dapat menikmati
segala hal.
Aku meminta kepada Tuhan
membantuku mengasihi orang lain,
seperti
Ia mengasihiku.
Tuhan menjawab ... "hmm........
akhirnya kau mengerti.

Bungaku...

Bungaku...
~: Ku habiskan waktu hanya 'tuk bersama bungaku
Meski kuharus lalui jalan berliku
Meski terkadang kuterkena duri-duri tajam
Namun akhirnya kudapat nikmati indahnya
Walau dengan bayang yang terhalang oleh jarak
Tapi kini bunga yang kusayang berada diantara jurang
Aku yang berusaha melewati tebing-tebing terjal
Kini terjatuh dalam kehampaan
Ku harus mencoba berdiri 'tuk melangkah
Walau ku tahu ku tak mampu melewati tebing curam itu
Disini, dimana aku benar-benar terjatuh dilembah kehampaan
Sekuntum bunga tersenyum kepadaku
Aku yang masih terluka
Ternyata dia-lah yang mampu membasuh sembuhkan lukaku
Meski ku hanya merasakan sakitnya luka
Tapi ku bisa sedikit merasakan manisnya madu
Aku tak tahu apa yang kulakukan
Tapi aku mencoba berdiri 'tuk berjalan
Meski aku harus tertatih-tatih karena sakitnya luka ini
Meski ku tak nyakin
Mampukah bunga ini menggantikan bungaku yang hilang
Semoga rasa ini terhanyut oleh arus waktu
Yang kan membawanya pergi jauh
Ku harus mencoba merawat bunga ini
Meski butuh waktu lama
Sampai terbentuk rangkaian bunga yang indah
Hingga tercium semerbak harum wangi bunga
Saat itu ku takkan merasakan lagi
Sakitnya luka ini